PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BASUDARA
(Perspektif Dakwah dan Komunikasi)
A. Latarbelakang
Aneka ragam wajah manusia sebagai simbol serupa indahnya
bunga yang berwarna-warni sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan terhadap ciptaannya
di alam semesta. Begitupula corak prilaku manusia yang lahir dari fitrah
berdasarkan lingkungan dimana ia berada juga sebagai bukti bahwa pesan Al-Quran
surah al-Hujurat/49:13 yang menciptakan manusia beraneka ragam sebagai dialektika
sosial yang membutuhkan penjelajahan keilmuan yang cermat dan teliti.
Perkembangan
pemikiran manusia dengan mobilisasi migrasi dari negara ke negara, pola migrasi
penduduk, ilmu, gaya hidup, dan saling ketergantungan antar negara, budaya,
suku, agama, dan teknologi sebagai realitas pentingnya pendidikan multikultural agar manusia tidak saling
berbenturan akibat kelemahannya sendiri.[1]
Selain itu stabilitas politik antar bangsa semakin intens semua ini membutuhkan
pola pendidikan multikultural agar saling memuliakan sesama ciptaan Tuhan yang
mulia.
Pentingnya
produk
pemahaman pendidikan multikultural di Maluku yang
belum ada bentuknya secara permanen dan sistematis. Maluku sebagai provinsi yang mulai ramai dikunjungi oleh migrasi lokal
dan mancanegara perlu dipersiapkan generasinya untuk mampu beradabtasi dengan
perubahan sosial.[2]
Perubahan sosial dalam cara belajar, memahami, menggunakan teknologi,
menafsirkan kode budaya dan bahasa dari berbagai suku bangsa dan negara,
menghormati, berpolitik, beragama, cara mempertahankan hidup membutuhkan metode
pendidikan multikultural.
Kebutuhan
ini adalah sebuah keniscayaan yang membutuhkan kerjakeras
mendesain secara metodologis
untuk mendapatkan sebuah cara pandang yang elegan dalam menyikapi masyarakat
yang multikultural. Cara pandang yang elegan yang dimaksudkan adalah mendesain grundmodel (model dasar) yang digunakan untuk memandang dan merancang metode pembelajaran dalam menyikapi kondisi masyarakat yang
multikultural di Maluku dengan prinsip al-maslaha.
Prinsip maslaha yang dimaksudkan adalah pendidikan
yang meningkatkan karakter saling percaya antar kedua belah pihak yang berbeda
keyakinan, budaya, pemikiran, pemahaman, motivasi, dan perbedaan mencapai
tujuan hidup. Landasan filosofisnya bertujuan untuk meminimalisasi benturan
psikologis dan benturan fisik dalam lingkungan pendidikan dan bermasyarakat dalam melakukan interaksi sosial.[3]
Dalam menyikapi keadaan ini perlu ada produk ilmu pendidikan multikultural basudara dalam menjaga stabilitas perubahan
sosial yang sedang berlangsung pada masyarakat multikultural di Maluku.
Dalam proses perubahan sosial yang terus berkelanjutan di
Maluku diperlukan kemasan Pendidikan Multikultural basudara untuk menyusun realitas perbedaan budaya, cara pandang,
potensi konflik, esensi, eksistensi, dan nilai dalam ilmu pendidikan multikultural.
Kemasan pendidikan multikultural basudara semacam horizon yang
dinamis untuk menata ide dan gagasan yang berserakan di tengah masyarakat
Maluku kemudian didesain menjadi satu kesepakatan (ilmu Pendidikan
Multikultural yang berbasis kepulauan). Karena perlu disadarai bahwa ketika
benturan psikologis dalam proses pembelajaran tidak disikapi dengan baik maka akan memberikan
dampak negatif pada wawasan pendidikan yang sudah mulai baik. Kondisi ini membutuhkan dialektika epistemologi untuk merawat dan menyikapi setiap peralihan dalam proses perubahan sosial budaya
di Maluku.
Ketika proses budaya melahirkan kebisingan paradigma
sehingga melahirkan desktruksi di tengah masyarakat berarti tanda bahwa konsep
yang ditawarkan kurang mampu menjawab respon perubahan sosial. Hal ini disebabkan oleh telah lahir paradigma baru yang mucul
secara alamiyah akibat pertumbuhan dan perkembangan pranata sosial yang pesat. Keadaan ini membutuhkan perangkat keilmuan baru dalam memberikan solusi dan kontribusi terhadap
filosofi pembelajaran untuk menyikapi persoalan dan perubahan sosial dalam dunia pendidikan
multikultural di Maluku. Misalnya silabi dan kurikulum pendidikan multikultural di tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMU, dan Perguruan Tinggi.
Silabi dan kurikulum pendidikan
multikultural belum ditelaah secara sistematis akar-akar keilmuannya sehingga
target pendidikan multikultural belum memberikan dampak yang signifikan di
Maluku. Hal ini urget dilakukan karena sampai saat ini belum ada horison standar yang dinamis dalam menata pergerakan sosial yang multikultural dalam dunia pendidikan di Maluku.
Realitas inilah membutuhkan epistemologi untuk menyusun,
memferifikasi dan membahas secara metodologis aspek pendidikan multikultural khas
Maluku yang sangat fundamental untuk mendapatkan suatu bangunan keilmuan berdasarkan
kajian filosofis sesuai kondisi dan perubahan sosial budaya di Maluku.
Epistemologi sebagai mesin keilmuan akan memproses dan mengkaji secara
sistematis tentang asal, metode, valititas, dan tujuan ilmu pengetahuan.
Epistemologi akan menjelaskan kebenaran dan kriterianya serta membantu bagaimana
cara diperolehnya suatu kebenaran.
Berdasarkan pengalaman para filosof Barat seperti Martin
Heidegger di Eropa pada abad ke-20 secara historis postur keilmuan terus memiliki
epistemologi yang berubah-ubah berdasarkan beban-beban kultural yang ada di dunia Eropa. Heidegger berpendapat bahwa para
filosof dihasilkan untuk zaman tertentu sehingga setiap aktor keilmuan
membutuhkan adaptasi epistemologi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan era
tersebut.[4]
Hal ini menunjukkan bahwa filsafat keilmuan lahir dari suatu krisis, jika
terjadi krisis maka perlu ada tinjauan kembali terhadap akar-akar kultur
keilmuan kemudian disusun kembali yang lebih akamodatif dengan kondisi perubahan
sosial yang ada.
Mencermati kondisi di Maluku secara
geografis Provinsi ini berjejer pulau-pulau kecil, yang memiliki berbagai macam
suku, agama, budaya yang memiliki ekspresi berpikir, dan tradisi perbedaan cara
pandang, cara berpikir, berkomunikasi, dan berprilaku.[5]
Kemajemukan ini tidak terlepas dari puing-puing bangunan pemikiran
bangsa-bangsa di masa lalu yang datang di Maluku dari berbagai negara seperti Arab,
Cina, Portugis, Inggris, India, Belanda, dan Jepang.[6]
Semua bangsa-bangsa ini bermukim dihampir seluruh pelosok Maluku yang juga
turut mewarnai sejarah pergerakan pendidikan Islam di Maluku.[7]
Warisan pendidikan yang tampak di tengah masyarakat Maluku antara lain superioritas
yang tinggi setiap negeri, perbedaan budaya, perbedaan pemahaman, adanya negeri
adat, totem (istilah Durkheim), turunan raja, turunan imam, dan modim. Warisan
multikultural ini masih tampak di era sekarang ini dan terus
tumbuh berkembang
berdasarkan rumusan perubahan sosial budaya di Maluku.
Semua realitas kekayaan kultur ini
membutuhkan epistemologi pendidikan multikultural basudara di Maluku.
Jika kekayaan kultur ini bisa disusun secara rapi maka dapat melahirkan postur
pendidikan multikultural yang terbaik di dunia. Karena jejak sejarah peradaban
pendidikan masyarakat di Maluku telah mengalami proses yang panjang melintasi ruang-ruang
sejarah yang melintasi daratan budaya dari Eropa dan Timur Tengah.
Realitas inilah sehingga perlu ada
epistemologi pendidikan multikultural khas Maluku dengan keunikannya
berdasarkan perpaduan berbagai macam budaya di dunia. Permasalahan dalam kajian ini
adalah bagaimana merancang model grundmodel (pola dasar) Epistemologi Pendidikan Multikultural Basudara di Kota Ambon untuk menjawab realitas perubahan sosial yang terus tumbuh dan berkembang
di Maluku?
[1]Piotr Sztompka, The Sosiology of Social Change, diterjemahkan
oleh Ali Mandan dengan Judul: Sosiologi Perubahan Sosial (Cet. I; IV;
Jakarta: Prenada, 2008), h. 327.
[2]Amin Abdullah, Pendidikan Multikultural sebagai perakat
kebudayaan manusia makalah dipresentasikan di depan mahasiswa Pascasarjana IAIN
Ambon 2013.
[3]Martin Hedegger, Sejarah Filsafat Barat diterjemahkan
oleh F.Budiman Hardiman, (Cet. I; Jakarta: Drikarya, 2006), h. 1.
[4]Ahmad Hasan Ridwan dan H. Irfan Safrudin, Dasar-Dasar
Epistemologi Islam (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 56.
[5]Muhammad Aji, Pengurus Sanggar
Sari el-Muluk, wawancara oleh penulis di
Rumahnya Kota Ambon 19 Januari 2013.
[6]Des Alwi, Sejarah Banda Neira; edisi Revisi (Cet. II;
Jakarta: Pustaka Al-Bayan, 2010), h.vii.
[7]Abdullah Lausepa Mantan Raja Larike periode 1960-1998, wawancara
dirumahnya 17 Oktober 2011.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar