The Green Al-Qalam
(Upaya
Mencegah Kerusakan Alam di Maluku)
Pendahuluan, Bagaimana Gambaran Kerusakan
lingkungan Di Maluku,
Bagaimana usaha pemerintah
dan masyarakat dalam menjaga alam, Bagaimana Peran media massa
dan masyarakat mencegah kerusakan lingkungan.
|
A. Latarbelakang
Maluku lima tahun terakhir mendapat
musibah bencana alam sehingga meluluhlatakkan penduduk negeri dengan biaya yang
cukup signifikan. Misalnya yang terjadi di Wai Ela dampak bendungan Wai Ela banyak sarana
dan prasarana sosial warga Negeri Lima rusak. Bentuk infrastruktur warga Negeri Lima yang rusak antara lain tiga gedung SD, satu gedung TK, dan satu gedung SMU musnah,
satu buah jembatan, dua mushala, satu puskesmas rawat inap, juga hanyut terbawa air bah. Dalam
laporan tersebut, Asep juga menjelaskan, satu tower perusahaan selular pun
hilang, serta jaringan listrik dan air bersih rusak. Selain menimbulkan
kerusakan, bencana tersebut juga menyebabkan 32 warga mengalami luka–luka, dan
tiga warga lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.[1] Ketiga warga
tersebut adalah, Muhsin Mahulau (63 tahun), Sedek Mahulau (42 tahun) dan Kalsum Uluputty.
Kondisi ini membutuhkan jurnalisme lingkungan sebagai media kampanye untuk mencegah kerusakan alam di Maluku. Diberbagai belahan
dunia the green pen telah menjadi media untuk mensosialisasikan kepada
masyarakat untuk merawat lingkungannya dimana saja ia berada karena beban dan
kerusakan alam telah menjadi perhatian masyarakat dunia global. Dampaknya kerusakan
infrastruktur akibat bencana alam juga telah
menguras anggaran Negara trilyun rupiah. Jurnalisme Hijau (Green journalism)
yang bertugas sebagai kampanye pengurangan bencana dunia (Wolrd Disaster
Reduction Campaign).
Peran media massa tak dapat dipungkiri telah menjadi agama
resmi bagi masyarakat industri. Pernyataan ini diungkapkan oleh Gorge Gerbner
dengan penuh keyakinan bahwa media massa dianggap turut memberikan andil dalam
mengkonstruksi dan memoles pemikiran masyarakat lewat pemberitaan di media
cetak dan alektronik.[2]
Pendapat Gorge Gerbner ini relevan dengan pakar media Marshal McLuhan bahwa
media sangat berbeperan mencetak opini publik dalam berbagai aspek,[3]
dengan kata lain bahwa cerminan media dewasa ini sebagai cerminan pemikiran
manusia moderen.
Mengingat betapa pentingnya peran jurnalis sebagai kekuatan
qalamnya perlu dimanfaatkan untuk mengkapanyekan cara mencegah kerusakan
lingkungan. The Green Al-Qalam sebagai upaya mencegah kerusakan alam di Maluku.
Pertanyaannya adalah apakah peran media telah berpihak pada
perbaikan alam sebagai pusat kehidupan manusia? Hal ini membutuhkan kajian
ilmiah apa sebab yang melatarbelakangi sehingga media hari ini lebih banyak
menyebarkan informasi hedonisme, materialisme, dan lupa menjadikan The Green
Al-Qalam sebagai upaya mencegah kerusakan alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar