Minggu, 22 September 2013

Dakwah Mencegah Kerusakan Alam (The Green Al-Qalam)

The Green Al-Qalam
(Upaya Mencegah Kerusakan Alam di Maluku)

  Pendahuluan,  Bagaimana Gambaran Kerusakan lingkungan Di Maluku,
  Bagaimana usaha pemerintah dan masyarakat dalam menjaga alam,  Bagaimana Peran media massa dan masyarakat mencegah kerusakan lingkungan.


A.  Latarbelakang
Maluku lima tahun terakhir mendapat musibah bencana alam sehingga meluluhlatakkan penduduk negeri dengan biaya yang cukup signifikan. Misalnya yang terjadi di Wai Ela dampak bendungan Wai Ela banyak sarana dan prasarana sosial warga Negeri Lima rusak. Bentuk infrastruktur warga Negeri Lima yang rusak antara lain  tiga gedung SD, satu gedung TK, dan satu gedung SMU musnah, satu buah jembatan, dua mushala, satu puskesmas rawat inap, juga hanyut terbawa air bah. Dalam laporan tersebut, Asep juga menjelaskan, satu tower perusahaan selular pun hilang, serta jaringan listrik dan air bersih rusak. Selain menimbulkan kerusakan, bencana tersebut juga menyebabkan 32 warga mengalami luka–luka, dan tiga warga lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.[1] Ketiga warga tersebut adalah, Muhsin Mahulau (63 tahun), Sedek Mahulau (42 tahun) dan Kalsum Uluputty.
Kondisi ini membutuhkan jurnalisme lingkungan sebagai media kampanye untuk mencegah kerusakan alam di Maluku. Diberbagai belahan dunia the green pen telah menjadi media untuk mensosialisasikan kepada masyarakat untuk merawat lingkungannya dimana saja ia berada karena beban dan kerusakan alam telah menjadi perhatian masyarakat dunia global. Dampaknya kerusakan infrastruktur akibat bencana alam juga telah menguras anggaran Negara trilyun rupiah. Jurnalisme Hijau (Green journalism) yang bertugas sebagai kampanye pengurangan bencana dunia (Wolrd Disaster Reduction Campaign).
Peran media massa tak dapat dipungkiri telah menjadi agama resmi bagi masyarakat industri. Pernyataan ini diungkapkan oleh Gorge Gerbner dengan penuh keyakinan bahwa media massa dianggap turut memberikan andil dalam mengkonstruksi dan memoles pemikiran masyarakat lewat pemberitaan di media cetak dan alektronik.[2] Pendapat Gorge Gerbner ini relevan dengan pakar media Marshal McLuhan bahwa media sangat berbeperan mencetak opini publik dalam berbagai aspek,[3] dengan kata lain bahwa cerminan media dewasa ini sebagai cerminan pemikiran manusia moderen.
Mengingat betapa pentingnya peran jurnalis sebagai kekuatan qalamnya perlu dimanfaatkan untuk mengkapanyekan cara mencegah kerusakan lingkungan. The Green Al-Qalam  sebagai upaya mencegah kerusakan alam di Maluku.
Pertanyaannya adalah apakah peran media telah berpihak pada perbaikan alam sebagai pusat kehidupan manusia? Hal ini membutuhkan kajian ilmiah apa sebab yang melatarbelakangi sehingga media hari ini lebih banyak menyebarkan informasi hedonisme, materialisme, dan lupa menjadikan The Green Al-Qalam  sebagai upaya mencegah kerusakan alam.




[1]Syafin Soulissa Warga Negeri Lima dan Dosen Sosiologi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, wawancara oleh penulis 29 Agustus 2013.
[2]
[3]

Dakwah Mencegah Konflik Kemanusiaan

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BASUDARA
(Perspektif Dakwah dan Komunikasi)


A. Latarbelakang
Aneka ragam wajah manusia sebagai simbol serupa indahnya bunga yang berwarna-warni sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan terhadap ciptaannya di alam semesta. Begitupula corak prilaku manusia yang lahir dari fitrah berdasarkan lingkungan dimana ia berada juga sebagai bukti bahwa pesan Al-Quran surah al-Hujurat/49:13 yang menciptakan manusia beraneka ragam sebagai dialektika sosial yang membutuhkan penjelajahan keilmuan yang cermat dan teliti.
Perkembangan pemikiran manusia dengan mobilisasi migrasi dari negara ke negara, pola migrasi penduduk, ilmu, gaya hidup, dan saling ketergantungan antar negara, budaya, suku, agama, dan teknologi sebagai realitas pentingnya pendidikan  multikultural agar manusia tidak saling berbenturan akibat kelemahannya sendiri.[1] Selain itu stabilitas politik antar bangsa semakin intens semua ini membutuhkan pola pendidikan multikultural agar saling memuliakan sesama ciptaan Tuhan yang mulia.
Pentingnya produk pemahaman pendidikan multikultural di Maluku yang belum ada bentuknya secara permanen dan sistematis. Maluku sebagai provinsi yang mulai ramai dikunjungi oleh migrasi lokal dan mancanegara perlu dipersiapkan generasinya untuk mampu beradabtasi dengan perubahan sosial.[2] Perubahan sosial dalam cara belajar, memahami, menggunakan teknologi, menafsirkan kode budaya dan bahasa dari berbagai suku bangsa dan negara, menghormati, berpolitik, beragama, cara mempertahankan hidup membutuhkan metode pendidikan multikultural.
Kebutuhan ini adalah sebuah keniscayaan yang membutuhkan kerjakeras mendesain secara metodologis untuk mendapatkan sebuah cara pandang yang elegan dalam menyikapi masyarakat yang multikultural. Cara pandang yang elegan yang dimaksudkan adalah mendesain grundmodel (model dasar) yang digunakan untuk memandang dan merancang metode pembelajaran dalam menyikapi kondisi masyarakat yang multikultural di Maluku dengan prinsip al-maslaha.
Prinsip maslaha yang dimaksudkan adalah pendidikan yang meningkatkan karakter saling percaya antar kedua belah pihak yang berbeda keyakinan, budaya, pemikiran, pemahaman, motivasi, dan perbedaan mencapai tujuan hidup. Landasan filosofisnya bertujuan untuk meminimalisasi benturan psikologis dan benturan fisik dalam lingkungan pendidikan dan bermasyarakat dalam melakukan interaksi sosial.[3] Dalam menyikapi keadaan ini perlu ada produk ilmu pendidikan multikultural basudara dalam menjaga stabilitas perubahan sosial yang sedang berlangsung pada masyarakat multikultural di Maluku.
Dalam proses perubahan sosial yang terus berkelanjutan di Maluku diperlukan kemasan Pendidikan Multikultural basudara untuk menyusun realitas perbedaan budaya, cara pandang, potensi konflik, esensi, eksistensi, dan nilai dalam ilmu pendidikan multikultural. Kemasan pendidikan multikultural basudara semacam horizon yang dinamis untuk menata ide dan gagasan yang berserakan di tengah masyarakat Maluku kemudian didesain menjadi satu kesepakatan (ilmu Pendidikan Multikultural yang berbasis kepulauan). Karena perlu disadarai bahwa ketika benturan psikologis dalam proses pembelajaran tidak  disikapi dengan baik maka akan memberikan dampak negatif pada wawasan pendidikan yang sudah mulai baik. Kondisi ini membutuhkan dialektika epistemologi untuk merawat dan menyikapi setiap peralihan dalam proses perubahan sosial budaya di Maluku. 
Ketika proses budaya melahirkan kebisingan paradigma sehingga melahirkan desktruksi di tengah masyarakat berarti tanda bahwa konsep yang ditawarkan kurang mampu menjawab respon perubahan sosial. Hal ini disebabkan oleh telah lahir paradigma baru yang mucul secara alamiyah akibat pertumbuhan dan perkembangan pranata sosial yang pesat. Keadaan ini membutuhkan  perangkat keilmuan baru dalam memberikan solusi dan kontribusi terhadap filosofi pembelajaran untuk menyikapi persoalan dan perubahan sosial dalam dunia pendidikan multikultural di Maluku. Misalnya silabi dan kurikulum pendidikan multikultural di tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMU, dan Perguruan Tinggi.
Silabi dan kurikulum pendidikan multikultural belum ditelaah secara sistematis akar-akar keilmuannya sehingga target pendidikan multikultural belum memberikan dampak yang signifikan di Maluku. Hal ini urget dilakukan karena sampai saat ini belum ada horison standar yang dinamis dalam menata pergerakan sosial yang multikultural dalam dunia pendidikan di Maluku.
Realitas inilah membutuhkan epistemologi untuk menyusun, memferifikasi dan membahas secara metodologis aspek pendidikan multikultural khas Maluku yang sangat fundamental untuk mendapatkan suatu bangunan keilmuan berdasarkan kajian filosofis sesuai kondisi dan perubahan sosial budaya di Maluku. Epistemologi sebagai mesin keilmuan akan memproses dan mengkaji secara sistematis tentang asal, metode, valititas, dan tujuan ilmu pengetahuan. Epistemologi akan menjelaskan kebenaran dan kriterianya serta membantu bagaimana cara diperolehnya suatu kebenaran.
Berdasarkan pengalaman para filosof Barat seperti Martin Heidegger di Eropa pada abad ke-20 secara historis postur keilmuan terus memiliki epistemologi yang berubah-ubah berdasarkan beban-beban kultural yang ada di dunia Eropa. Heidegger berpendapat bahwa para filosof dihasilkan untuk zaman tertentu sehingga setiap aktor keilmuan membutuhkan adaptasi epistemologi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan era tersebut.[4] Hal ini menunjukkan bahwa filsafat keilmuan lahir dari suatu krisis, jika terjadi krisis maka perlu ada tinjauan kembali terhadap akar-akar kultur keilmuan kemudian disusun kembali yang lebih akamodatif dengan kondisi perubahan sosial yang ada.
Mencermati kondisi di Maluku secara geografis Provinsi ini berjejer pulau-pulau kecil, yang memiliki berbagai macam suku, agama, budaya yang memiliki ekspresi berpikir, dan tradisi perbedaan cara pandang, cara berpikir, berkomunikasi, dan berprilaku.[5] Kemajemukan ini tidak terlepas dari puing-puing bangunan pemikiran bangsa-bangsa di masa lalu yang datang di Maluku dari berbagai negara seperti Arab, Cina, Portugis, Inggris, India, Belanda, dan Jepang.[6] Semua bangsa-bangsa ini bermukim dihampir seluruh pelosok Maluku yang juga turut mewarnai sejarah pergerakan pendidikan Islam di Maluku.[7] Warisan pendidikan yang tampak di tengah masyarakat Maluku antara lain superioritas yang tinggi setiap negeri, perbedaan budaya, perbedaan pemahaman, adanya negeri adat, totem (istilah Durkheim), turunan raja, turunan imam, dan modim. Warisan multikultural ini masih tampak di era sekarang ini dan terus tumbuh berkembang berdasarkan rumusan perubahan sosial budaya di Maluku.
Semua realitas kekayaan kultur ini membutuhkan epistemologi pendidikan multikultural basudara di Maluku. Jika kekayaan kultur ini bisa disusun secara rapi maka dapat melahirkan postur pendidikan multikultural yang terbaik di dunia. Karena jejak sejarah peradaban pendidikan masyarakat di Maluku telah mengalami proses yang panjang melintasi ruang-ruang sejarah yang melintasi daratan budaya dari Eropa dan Timur Tengah.
Realitas inilah sehingga perlu ada epistemologi pendidikan multikultural khas Maluku dengan keunikannya berdasarkan perpaduan berbagai macam budaya di dunia. Permasalahan dalam kajian ini adalah bagaimana merancang model grundmodel (pola dasar) Epistemologi Pendidikan Multikultural Basudara  di Kota Ambon untuk menjawab realitas perubahan sosial yang terus tumbuh dan berkembang di Maluku?



[1]Piotr Sztompka, The Sosiology of Social Change, diterjemahkan oleh Ali Mandan dengan Judul: Sosiologi Perubahan Sosial (Cet. I; IV; Jakarta: Prenada, 2008), h. 327. 
[2]Amin Abdullah, Pendidikan Multikultural sebagai perakat kebudayaan manusia makalah dipresentasikan di depan mahasiswa Pascasarjana IAIN Ambon 2013.

[3]Martin Hedegger, Sejarah Filsafat Barat diterjemahkan oleh F.Budiman Hardiman, (Cet. I; Jakarta: Drikarya, 2006), h. 1.
[4]Ahmad Hasan Ridwan dan H. Irfan Safrudin, Dasar-Dasar Epistemologi Islam (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 56.
[5]Muhammad Aji, Pengurus Sanggar Sari el-Muluk, wawancara oleh penulis di Rumahnya Kota Ambon 19 Januari 2013.
[6]Des Alwi, Sejarah Banda Neira; edisi Revisi (Cet. II; Jakarta: Pustaka Al-Bayan, 2010), h.vii.
[7]Abdullah Lausepa Mantan Raja Larike periode 1960-1998, wawancara dirumahnya 17 Oktober 2011.